Minang Saisuak #132 - Nagari Sungai Beramas

Warga Padang khususnya dan masyarakat Minangkababau umumnya tentu mengetahui nama nagari Sungai Barameh di dekat Pelabuhan Teluk Bayur. Nama nagari ini unik: dalam bahasa Minangkabau ragam tulis disebut Sungai Beremas, yang kalau dicoba cari maknanya mungkin berarti ‘Sungai yang mengandung/memiliki emas’. Tapi kalau dilihat bentuk lisannya-Sungai Barameh-maka itu bisa berarti ’sungai yang diremas’. Jelas makna itu kurang logis; yang lebih masuk akal tentu makna ’sungai yang mengandung emas’ tadi. Tapi kenapa dalam ragam lisan nama nagari ini ditulis Sungai Barameh, bukan Sungai Baameh? Agaknya ini mungkin pengaruh proses pemelayutinggian nama-nama daerah/nagari di Minangkabau, sebagaimana ditemukan juga pada nama nagari-nagari lain, yang kadang-kadang mengalami apa yang disebut hiperkoreksi. 

Rubrik Minang Saisuak” kali ini menurunkan foto klasik pemandangan di lebuh gedang nagari Sungai Barameh. Weg …. naar Soengei Beramas Emmahaven” [kata kedua tak bisa dibaca karena kurang jelas]. Artinya kurang lebih: ‘Jalan ke Sungai Barameh Teluk Bayur’. Tidak ada catatan tarikh pasti pembuatan foto ini, tapi sangat mungkin akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, setelah Emmahaven (sekarang: Pelabuhan Teluk Bayur) yang dibangun tahun 1893 mulai beroperasi. Pengoperasian pelabuhan itu jelas menimbulkan dampak sosial: kampung-kampung di sekitarnya yang semula lengang, termasuk Sungai Barameh, mulai berkembang dan dikunjungi oleh banyak orang luar.

Judul foto ini memberikan data yang jelas bahwa sudah sejak dulu nagari dekat Teluk Bayur ini disebut ‘Sungai Beramas’. Akhir-akhir ini banyak orang mempermasalahkan penulisan nama kampung-kampung atau nagari-nagari di Minangkabau yang katanya salah atau keliru. Menurut saya mereka ahistoris dana mengalami amnesia sejarah. Mau menulis apa? Sungai Barameh, Sungai Baameh, Sungai Beramas, atau Sungai Beremas? Berapa pula anggaran negara dari duit rakyat yang akan dihabiskan untuk merapatkan perubahan nama itu sebelum keputusan dapat diambil? Hemat saya, biarkanlah nama-nama kampung/nagari itu tetap seperti yang sudah dikenal ratusan tahun lalu. Orang awak zaman kini cenderung suka cari-cari kojo, tapi setelah dapat kojo sering mancilobie


sumber : Suryadi - Leiden, Belanda. (Sumber foto: Indisch Weteschappelijk Institute, Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 7 Juli 2013

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Minang Saisuak #132 - Nagari Sungai Beramas"

Post a Comment